This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Perang Khandaq

1 komentar


Perang Khandaq

            Perang Khandaq, dinamakan juga perang Ahzab. Menurut Ibnu Ishaq, Urwah bin Zubair, Baihaqi dan jumhur Ulama, sirah menyebutkan bahwa peperangan ini terjadi pada bulan Syawwal tahun kelima Hijra. Ada juga yang mengatakan pada tahun keempat Hijra. Pendapat yang terakhir ini dikemukakan oleh Musa bin Uqbah kemudian diriwayatkan oleh Bukhari dan diikuti oleh Malik.

            Sebabnya, karena beberapa pemimpin Yahudi dari Bani Nadlir berangkat ke Mekkah untuk mendorong kaum Musyrikin Quraisy melancarkan perang terhadap Rasulullah saw.
Mereka berjanji: “Kami akan berperang bersama-sama kalian hingga berhasil menghancurkannya.“
Selanjutnya mereka berdalih dan meyakinkan bahwa: “Kepercayaan kalian (orang-orang Quraisy) jauh lebih baik daripada agama Muhammad.“ Berkenaan dengan mereka inilah Allah swt menurunkan firman-Nya :
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari al-Kitab? Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah dan Thogut, serta mengatakan kepada orang-orang kafir (Musyrik Mekkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dariapda orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Siapa saja yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.“ QS an-Nisa 51-52

            Maka mereka bersepakat bersama kaum Musyrikin Quraisy untuk memerangi kaum Muslimin, pada hari yang telah ditentukan bersama.

            Kemudian para pemimpin Yahudi itu mendatangi suku Ghathafan dan berhasil mewujudkan persekutuan dengan mereka sebagaimana yang telah berhasil diciptakannya dengan kaum musyrikin Quraisy. Selain Bani Ghatfahan, turut bergabung pula Bani Fuzarah dan Bani Murrah yang selama itu menyimpan dendam kesumat terhadap Islam.

            Ketika Rasulullah saw mendengar berita keberangkatan mereka dari Mekkah, beliau mengumumkannya kepada kaum Muslimin dan memerintahkan mereka untuk mengadakan persiapan perang. Rasulullah saw meminta pandangan para sahabatnya dalam menghadapi peperangan ini. Salman al-Farisi mengusulkan supaya digali parit di sekitar kota Madinah. Kaum Muslimin mengagumi usulan ini dan menyetujuinya (karena cara ini belum pernah dikenal oleh bangsa Arab dalam peperangan mereka). Kemudian bersama Rasulullah saw kaum Muslimin keluar dari kota Madinah dan berkemah di lereng gunung Sila dengan membelakanginya. Mereka mulai menggali parit yang memisahkan mereka dengan musuh mereka. Waktu itu jumlah kaum Muslimin sebanyak tiga ribu sedangkan kaum Quraisy bersama kabilah-kabilah lain berjumlah sepuluh ribu.

            Gambaran kerja kaum Muslimin dalam menggali parit: Imam Bukhari meriwayatkan dari Barra ra, ia berkata: Pada waktu perang Ahzab saya melihat Rasulullah saw menggali parit dan mengusung tanah galian sampai saya tidak dapat melihat dada beliau yang berbulu lebat karena tebalnya tanah yang melumurinya. Diriwayatkan dari Anas ra, bahwa kaum Anshar dan Muhajirin menggali parit dan mengusung tanah galian seraya mengucapkan :
"Kami adalah orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad untuk setia kepada Islam selama kami masih hidup.“

Ucapan ini dijawab oleh Rasulullah saw :
"Ya, Allah sesungguhnya tiada kebaikan kecuali kebaikan akherat maka berkatilah kaum Anshar dan Muhajirin.“

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Jabir ra, ia berkata: “Ketika kami sedang sibuk menggali parit di Khandaq kami temukan sebongkah batu besar yang sukar untuk dipecahkan”.
Para sahabat melapor kepada Nabi saw: “Sebongkah batu menghambat kelancaran kami dalam penggalian Khandaq“.

Kata Nabi saw: "Biarkan aku yang turun”. Kemudian beliau segera bangkit, sedang perut beliau diganjal dengan batu. Sebelumnya kami tidak pernah merasakan makanan apa pun selama tiga hari. Nabi saw segera mengambil martil dan dipukulkannya di atas batu itu hingga hancur berupa pasir.

Kata Jabir ra: "Aku katakan kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah ijinkanlah aku untuk pulang sebentar.“ Sesampaiku di rumahku aku katakan kepada istriku,“ Aku lihat sesuatu pada diri beliau yang tidak boleh kita biarkan. Adakah kamu mempunyai sesuatu?“

Jawab istriku: “Ya, aku punya gandum dan seekor anak kambing.“ Kemudian anak kambing itu segera kusembelih dan gandum itu kutumbuk. Daging kambing itu kumasak dalam periuk dan tepung gandum kumasukkan ke dalam pembakaran roti.
Aku kembali ke tempat Nabi saw dan kukatakan: “Ya, Rasulullah saw, aku ada sedikit makanan. Datanglah engkau ke rumahku bersama seorang atau dua orang sahabatmu.“

Tanya Nabi saw, “Berapa banyakkah makanan itu?“
Setelah kusebutkan jumlah makanan itu, beliau berkata, “Itu cukup banyak dan baik. Katakan pada istrimu jangan diangkat masakan itu dari atas tungku dan roti itu jangan pula sampai dikeluarkan dari tempat pembakarannya sebelum aku datang ke sana.“

Kemudian Nabi saw memanggil kaum Muhajirin dann Anshar, “Bangkitlah kalian!“
Di dalam riwayat lain disebutkan:
Kemudian Nabi saw berteriak memanggil, “Wahai para penggali parit, mari kita datang. Sesungguhnya Jabir telah memasak makanan besar.“

Ketika aku masuk ke tempat istriku kukatakan padanya, “Nabi saw datang bersama kaum Muhajirin dan Anshar dan orang yang bersama mereka.“

Tanya istriku: “Apakah beliau menanyakan berapa banyak makanan kita?
Jawabku: “Ya.“
Istriku berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.“

Kemudian Nabi saw datang seraya berkata: “Masuklah kalian dan jangan berdesakan.“

Kemudian Nabi saw memotong-motong roti dan dicampurkan pada daging serta kuah yang ada di periuk. Kemudian beliau mendekatkan hidangan kepada para sahabat sedang beliau tetap memotong-motong roti itu dan dalam waktu yang bersamaan para sahabat makan dengan puas sampai kenyang.

Mereka semuanya kenyang, sedangkan roti dan kuah masih tetap banyak sisanya.

Beliau berkata, “Makanlah ini dan bagikanlah kepada orang banyak karena kini sedang terjadi musim paceklik.“

Di dalam riwayat lain Jabir menurutkan: “Aku bersumpah dengan nama Allah. Mereka telah makan hingga mereka pergi dan meninggalkan daging di dalam periuk kami masih tetap utuh, demikian pula roti kami.“

Sikap orang-orang Munafiq dalam penggalian Khandaq

            Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa orang-orang munafiq merasa enggan dalam mengerjakan penggalian parit bersama Nabi saw dan kaum Muslimin. Mereka sengaja menampakkan diri seperti orang lemas dan tidak memiliki kemampuan. Bahkan banyak yang melarikan diri ke rumah tanpa sepengetahuan Rasulullah saw. Sedangkan setiap orang dari kaum Muslimin apabila mempunyai keperluan, ia pasti meminta ijin kepada Rasulullah saw dan kembali lagi melaksanakan tugas penggaliannya. Berkenaan dengan sikap ini Allah menurunkan firman-Nya:
"Sesungguhnya yang sebenar-benar mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta ijin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta ijin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka apabila mereka meminta ijin kepadamu karena sesuatu urusan, berilah ijin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ QS An-Nur : 62

Bani Quraidlah melanggar Perjanjian

            Huyay bin Akhthab pergi mendatangi Ka‘ab bin Asad al-Qardli, mengajaknya untuk melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama Rasulullah saw.
Huyay bin Akhthab berkata kepadanya, “Aku datang kepadamu dengan membawa pasukan Quraisy beserta para pemimpinnya yang telah kuturunkan di sebuah lembah di dekat Raumah, dan suku Ghatfahan beserta para tokohnya yang telah kuturunkan di ujung Nurqma di samping Uhud. Mereka telah berjanji kepadaku untuk tidak meninggalkan temapat sampai kita berhasil menumpas Muhammad dan orang-orang yang bersamanya.
 “ Ka‘ab menjawab: “Demi Allah, kamu datang kepadaku dengan membawa kehinaan sepanjang jaman … Celaka engkau wahai Huyay. Tinggalkan dan biarkanlah aku karena aku tidak melihat Muhammad kecuali sebagai seorang yang jujur dan setia.“ Tetapi Huyay terus mendesaknya hingga pada akhirnya Ka‘ab bersedia untuk melakukan pengkhianatan terhadap perjanjian tersebut.

            Setelah mendengar berita ini Rasulullah saw segera mengutus Sa‘ad bin Muadz untuk menyelidikinya. Kepadanya Nabi saw berpesan agar berbicara kepada Huyay dengan bahasa kiasan yang difahaminya jika berita itu benar, dan agar tidak memberikan peluang kepada orang banyak untuk menggunakan kekuatannya. Jika berita ini tidak benar maka hendaknya segera diumumkan kepada khalayak ramai. Setelah melacak berita dan ternyata berita itu benar maka Sa‘ad pun segera kembali kepada Rasulullah saw melaporkannya, “Ya, mereka telah melanggar perjanjian sebagaimana suku Adhal dan Qarah.“ Lalu Rasulullah saw mengatakan :
"Allah Maha Besar, bergembiralah wahai kaum Muslimin.“

Keadaan kaum Muslimin pada waktu itu

            Kaum Muslimin mendapat kepastian bahwa Bani Quraidlah telah melanggar perjanjian. Pada saat yang sama kaum Munafiqin pun menyebarkan bibit-bibit keraguan dan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sementara musuh datang dari segala penjuru arah. Kaum Munafiq terus melancarkan tikaman dari dalam. Salah seorang dari kaum Munafiq itu berkata: “Dulu Muhammad menjanjikan bahwa kita akan memakan harta kekayaan Kisra dan Kaisar, tetapi sekarang untuk pergi membuang hajat pun kita tidak aman.“

            Melihat keadaan kaum Muslimin yang semakin terancam ini maka Rasulullah saw meminta pandangan Sa‘ad bin Muadz Sa‘ad bin Ubadah untuk melakukan perdamaian dengan kabilah Ghatfahan dengan memberikan sepertiga hasil panen kota Madinah agar mereka bersedia untuk tidak ikut memerangi kaum Muslimin. Keduanya menjawab: “Wahai Rasulullah saw, apakah pemikiran ini merupakan perintah yang engkau inginkan agar kami melaksanakannya ataukah perintah yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, ataukah sekear kebijaksanaan yang engkau ambil untuk meringankan kami?“. Nabi saw menjawab, "Hanya sekedar kebijaksanaan yang aku ambil untuk menghancurkan kepungan mereka terhadap kalian.“ Pada saat itu SA‘ad bin Muadz berkata kepada Nabi saw, “Demi Allah, kita tidak perlu mengambil langkah itu. Demi Allah kami tidak akan rela memberikan sesuatu kepada mereka selain daripada pedang sampai Allah memutuskan sesuatu antara kami dan mereka.“ Setelah mendengar ucapan Sa‘ad bin Muadz ini wajah Rasulullah saw kelihatan berseri dan berkata kepadanya: “Engkau dapat yang engkau inginkan“

            Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ashim bin Amer bin Qatadah dari Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri berkata: Pernyataan dan keinginan berdamai (antara kaum Muslimin dan Ghatfahan) itu tidak lain hanyalah sebagai manuver belaka.

            Dalam pada itu kaum Musyrikin dikejutkan oleh parit di hadapannya. Mereka berkata, sungguh ini merupakan tipu daya yang tidak pernah dilakukan oleh bangsa Arab. Kemudian mereka mengambil posisi dan berkemah di sekitar parit mengepung kaum Muslimin. Tetapi tidak terjadi pertempuran kecuali beberapa orang Musyrik yang berusaha menyeberangi parit di suatu sudut yang sempit dan berhasil dicegat oleh kaum Muslimin. Dalam usaha ini sebagian mereka kembali dan sebagian yang lain terbunuh. Di antara orang Musyrik yang terbunuh itu terdapat Amer bin Wudd. Ia dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib.

Kekalahan kaum Musyrikin tanpa peperangan

            Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin dalam perang Khandaq ini tanpa melalui pertempuran. Allah mengalahkan mereka dengan dua sarana yang tidak melibatkan kaum Muslimin sama sekali. Pertama, dengan seorang lelaki dari kaum Musyrikin bernama Nu‘aim bin Mas‘du, yang datang kepada Nabi saw menyatakan diri masuk Islam yang kemudian menawarkan diri kepada Nabi saw untuk melaksanakan segala bentuk perintah yang diinginkan oleh Nabi saw. Lalu Nabi saw memberikan tugas untuk memecah kekuatan musuh. Kepadanya Nabi saw berpesan :
"Diantara kita, engkau adalah satu-satunya orang yang dapat melaksanakan tugas itu. Bila engkau sanggup, lakukanlah tugas itu untuk menolong kita. Ketahuilah bahwa peperangan, sesungguhnya adalah tipu muslihat.“

            Nu‘aim kemudian segera pergi mendatangi orang-orang Bani Quraidlah untuk meyakinkan. Mereka mengira Nu‘aim masih sebagai seorang Musyrik agar mereka tidak turu berperang bersama-sama kaum Quraisy sebelum mendapat jaminan dari mereka berupa beberapa orang terkemuka sebagai sandera, supaya kaum Quraisy tidak mundur meninggalkan mereka sendirian di Madinah tanpa pembela dalam menghadapi Muhammad dan para sahabatnya. Mereka menjawab: “Engkau telah memberikan suatu pendapat yang amat baik.“

            Setelah itu Nu‘aim pergi mendatangi pemimpin-pemimpin Quraisy. Kepada mereka Nu‘aim memberitahukan bahwa Bani Quraidlah telah menyesal atas apa yang mereka lakukan dan secara sembunyi-sembunyi mereka telah melakukan kesepakatan bersama Nabi saw untuk menculik beberapa peimpin Quraisy dan Ghatfahan untuk diserahkan kepada Nabi saw untuk dibunuhnya. Karena itu, bila orang-orang Yahudi itu datang kepada kalian untuk meminta beberapa orang sebagai sandera, janganlah kalian menyerahkan seorang pun kepada mereka.

            Nu‘aim kemudian pergi mendatangi orang-orang Bani Quraidlah. Kepada mereka ia mengemukakan apa yang dikemukakannya kepada orang-orang Quraisy. Demikianlah akhirnya terjadi salah paham di antara mereka dan saling tidak mempercayai. Sehingga masing-masing dari mereka menuduh terhadap yang lainnya sebagai berkhianat.

            Kedua, dengan mengirimkan angin taufan pada malam hari yang dingin dan mencekam. Angin taufan datang menghempaskan kemah-kemah merekan dan menerbangkan kuali-kuali mereka. Hal ini terjadi setelah mereka melakukan pengepungan kepada kaum Muslimin selama sepuluh hari lebih.

            Muslim meriwayatkan dengan sanad-nya dari Hudzaifah bin al-Yaman ra, ia berkata: “Pada suatu malam dalam situasi perang Ahzab, kami bersama Rasulullah saaw merasakan tiupan angin yang sangat kencang, dan dingin mencekam. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Adakah orang yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepadaku, mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku pada Hari Kiamat.“ Kami semua diam, tak seorang pun dari kami menjawabnya. Rasulullah saw mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali. Kemudian berkata:"Bangkitlah wahai Hudzaifah, carilah berita dan laporkanlah kepadaku.“ Maka tidak boleh tidak aku harus bangkit, karena beliau menyebut namaku. Nabi saw berpesan: “Berangkatlah mencari berita musuh dan janganlah engkau melakukan tindakan apapun.“ Ketika aku berangkat dari sisinya aku berjalan seperti orang yang sedang dicengkeram kematian, hingga aku tiba di basis mereka. Kemudian aku lihat Abu Shofyan sedang menghangatkan punggungnya di perapian. Lalu aku pasang anak panah di busur untuk memanahnya, tetapi aku segera teringat pesan Rasulullah saw, “Janganlah engkau melakukan tindakan apapun.“ Kalau aku panahkan pasti akan mengenai pahanya. Kemudian aku kembali dengan berjalan seperit orang yang sedang dalam cengkeraman maut. Setelah aku datang kepada Nabi saw dan menyampaikan berita tentang kaum Musyrikin, Nabi saw menyelimuti aku dengan kainnya yang biasa dipakai untuk shalat. Malam itu aku tidur sampai pagi dan dibangunkan oleh Nabi saw seraya berkata, “Bangun, hai tukang tidur.“

            Ibnu Ishaq meriwayatkannya dengan tambahan : Kemudian aku masuk di kalangan kaum Musyrikin, ketika angin dan tentara-tentara Allah sedang mengobrak-abrik mereka, menerbangkan kuali, memadamkan api, dan menumbangkan perkemahan. Kemudian Abu Shafyan bangkit seraya berkata: “Wahai kaum Quraisy, setiap orang hendaknya melihat siapa teman duduknya?“ Hudzaifah berkata: “Kemudian aku memegang tangan orang yang berada di sampingku lalu aku bertanya kepadanya: “Siapakah anda?“ Dia menajwab: “Fulan bin Fulan". Selanjutnya Abu Shofyan berkata: “Wahai kaum Quraisy, demi Allah swt, kalian tidak mungkin lagi dapat terus berada di tempat ini. Banyak ternak kita yang mati. Orang-orang Bani Quraidlah telah menciderai janji dan kita mendengar berita yang tidak menyenangkan tentang sikap mereka. Kalian tahu sendiri kita sekarang sedang menghadapi angin taufan yang hebat. Karena itu, pulang sajalah kalian, dan aku pun akan berangkat pulang.“

            Pada keesokkan harinya seluruh kaum Musyrikin kembali meninggalkan medang perang, dan Rasulullah saw pun bersama para sahabatnya kembali ke Madinah.

Selama perang Ahzab ini berlangsung Nabi saw tidak henti-hentinya, siang malam senantiasa beristighfar, merendahkan diri, dan berdo'a kepada Allah untuk kemenangan kaum Muslimin. Di antara do'a yang diucapkannya ialah :
"Ya Allah, Tuhan yang menurunkan kitab (Al-Quran) yang Maha cepat hidab-Nya, kalahkanlah barisan Ahzab (golongan Musyrikin). Kalahkanlah dan guncangkanlah mereka.“

            Pada peperangan ini Nabi saw luput satu waktu shalat kemudian dilaksanakan (qadlah) di luar waktunya. Di sebutkan di dalam Ash-Shahihain bahwa Umar bin Khathab ra datang, waktu perang Ahzab, setelah matahari terbenam kemudian dia mengecam orang-orang kafir Quraisy lalu berkata: “Wahai Rasulullah saw! Aku belum sempat shalat Ashar sampai matahari hampir terbenam.“ Nabi saw menjawab: “Demi Allah, aku sendiripun belum shalat (Ashar).“ Lalu kami berangkat ke tempat air dan berwudlu. Kemudian Nabi saw shalat Ashar setelah matahari terbenam. Setelah itu Nabi saw melanjutkan dengan shalat maghrib.

            Imam Muslim menambahkan Hadits lainnya bahwa Nabi saw bersabda pada perang Ahzab, “Mereka (kaum Musyrikin) telah menyibukkan kita sehingga kita tidak sempat Shalat Ashar. Semoga Allah swt memenuhi rumah-rumah dan kuburan-kuburan mereka dengan api". Kemudian Nabi saw melaksanakan (shalatz Ashar) antara Maghrib dan Isya‘


Beberapa Ibrah

            Peperangan ini juga terjadi karena pengkhianatan dan tipu muslihat orang-orang Yahudi. Merekalah yang menggerakkan menghasut dan menghimpun golongan (Ahzab) dan kabilah itu. Kejahatan dan pengkhianatan ini tidak cukup dilakukan oleh orang-orang Yahudi Bani Nadlir yang telah diusir dari Madinah. Bahkan Banu Quraidlah pun yang masih terikat perjanjian bersama kaum Muslimin kini telah melakukannya. Padahal tidak ada satu pun tindakan kaum Muslimin yang mengundang mereka untuk melanggar perjanjian tersebut.

Kita tidak perlu mengulas kembali peristiwa pengkhianatan ini, karena pengkhianatan-pengkhianatan seperti ini telah menjadi catatan sjearah yang sudah dikenal pada setiap jaman dan tempat.



puisi ku

0 komentar


Sakit ku

Karya: Uswatun I. Nur Siam

Aku memang terlihat biasa dari luar
Tetapi
Di dalam aku merasa kan sakit
Sakit yang lebih menyakitkan
Aku ingin kembali kesana
Tetapi
Ada yang membuatku tertahan di sini
Aku harus menahan sakit ini
Hingga beberapa saat
Sampai yang membuatku
Tertahan di sini lepas
                Sebenarnya,
                Aku sudah tak sanggup lagi menahannya
                Aku ingin segera kembali
                Di tempat yang bisa melepas penat
Tetapi,
Ini lah konsekuensinya
Sesuatu yang sudah aku pilih
Dan aku harus menjalankan
Sesuatu yang ku pilih terlebih dahulu
Aku tetap iklas, meski sakit


cerpenku

0 komentar


Aku, kau dan saudara kembarku

Suara kicau burung di pagi hari, terdengar menembus gendang telinga, jam alarm tepat menunjukkan pukul 6 pagi. Aku masih terbaring, malas untuk bangun. Tapi sepertinya bila aku terus tertidur, matahari akan marah padaku. Aku mencoba untuk tidur kembali, tapi tak kuasa menahan sinar matahari yang terus terbayang-bayang di wajahku. Baiklah aku menyerah dan akan bangun. Indahnya pagi beserta cahaya matahari pagi juga mulai menyentuh seluruh isi ruangan kamarku.
Aku harus bersiap-siap untuk membantu mama ku dan mengemasi barang-barang ku. Hari ini adalah hari minggu dan seperti biasa aku harus berangkat menuju asrama sekolahku. Karena letak sekolahku yang cukup jauh dari rumahku, ya sekitar 3 jam perjalanan menaiki mobil, maka aku harus beragkat hari ini.
“oouuhhh.....!!!” teriakku sambil menguap.
Hai sobat kenalkan nama ku Cantika Wanda Putri, ya aku anak pertama dari dua bersaudara. Aku mempunyai adek laki-laki yang sangat gendut, berbeda dengan ku yang kurus. Di keluarga ku aku sendiri yang berbeda dari yang lain, kayak bukan anak mama dan papaku, hehe....         
Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, walaupun sederhana aku sangat mencintai keluarga ku. Mama dan papa ku pun selalu memanjakanku. Sebenarnya aku tidak boleh untuk bersekolah di sekolahku yang sekarang ini, tapi aku sangat bersikeras untuk bersekolah di sini. Selain jarak yang jauh dan jarang pulang ke rumah, faktor biaya juga menghambat. Tapi papa ku mendukung keinginanku ini, akhirnya dengan berat hati semuanya ikhlas aku sekolah di sini.
Sobat, setelah satu tahun aku berada di sini aku baru sadar betapa sulitnya hidup sendiri yang jauh dari orang tua yang selalu memanjakan ku, betapa sulitnya ketika ku sakit, dan mengatur keungan sendiri. Selama ini aku hanya bisa meminta dan mengeluh tapi sekarang keluhan itu tidak berguna bagi ku sama sekali.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 saatnya untuk aku pergi. Sebelum aku pergi aku berpamitan dulu dengan mama dan adik ku. Setelah aku berpamitan aku pun berangkat dengan di antar papa ku. Tapi papa ku hanya bisa mengantar sampai terminal saja, setelah itu aku harus naik bus menuju kota di mana sekolah ku berada. Sobat taukah kamu? Di dalam bus ini masih sepi sehingga aku masih leluasa untuk bergerak, biasanya penuh orang sehingga aku tidak leluasa, jagankan untuk leluasa bergerak aja susah. Tidak lama kemudian ada seseorang penumpang masuk, dia duduk di sebelahku. Aku pun tidak menyadarinya.  Ketika ku lihat ternyata itu adalah kakak kelas ku sendiri. Namanya Ikhsan. Tentu saja aku sangat terkejut melihatnya. Kak Ikhsan kakak yang terkenal baik di sekolah. Selain itu, dia juga mengikuti organisasi kerohanian islam. Aku sangat gugup berada di sampingnya. Setahu ku dia orangnya pendiem dan jarang mau bersosialisasi dengan orang yang tidak akrab dengannya.
Setelah sekian lama, akhirnya dia mengajak aku ngobrol. Dan tidak ku sangka ternyata dia mengetahui tentang diriku. Ternyata setelah sekian lama aku mengobrol dengannya aku mengetahui sifat sebenarnya dari kak Ikhsan. Dia begitu arif bijaksana dan bersahabat. Aku pun tiba di asrama sekolahku, setelah itu aku langsung beres-beres kamar ku.
Kesokan harinya, aku bersekolah seperti biasanya. Hanya saja terdapat sedikit keanehan di dalam diriku. Aku merasakan sakit di daerah ginjalku. Hal itu ku buat biasa, mungkin aku hanya kelelahan karena semalam tidur terlalu malam. Tapi akhirnya aku tak kuasa lagi menahannya. Aku pun merasakan ada sesuatu yang menusuk yang membuatku lemas. Teman ku yang tau keadaan ku langsung membawa ku ke UKS. Aku tak tau mengapa aku merasakan hal ini. Setahu ku waktu kecil aku tidak mempunyai penyakit apapun. Kemudian ada seorang guru yang menengok keadaan ku. Guru itu sangat perhatian dan sayang padaku. Dia menyayangi ku melebihi anaknya sendiri, entah mengapa sebabnya. Katanya “ Cantika kau sangat mirip dengan anak ku, itulah yang membuat bapak sangat sayang padamu”. Dan aku menjawab “ kemana anak bapak ?”. “dia sekarang berada di luar kota bersama neneknya, menuntut ilmu di sana”. Tuturnya.
Sobat ada yang aneh dengan guru ku itu, selain dia sayang padaku, dia juga selalu menanyakan asal usul keluarga ku. Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh bapak itu. Aku sempat bercerita kepada mama dan papku tentang hal ini tapi mereka hanya berkata “ itu hanya hal yang sewajarnya nak, tidak usah kamu pikirkan”. Tapi aku melihat kedua orang tua ku berperilaku aneh ketika aku bercerita tentang hal ini. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan dari ku. Aku sempat berpikir kalau aku bukan anak kandung dari papa dan mama ku.
Setelah aku mulai sembuh dari rasa sakit ku, guru itu bercerita tentang dirinya. Dulunya bapak guru ku juga mempunyai penyakit yang sama dengan ku sekarang ini. Dia juga mempunyai dua orang anak kembar. Tapi anak kembar itu terpisahkan karena bapak itu tak sanggup untuk membiayai dua anak kembar tersebut. Hatinya terasa terpukul dan bersalah, selolah-olah dia tidak mau menerima karunia yang di berikan Allah saat itu. “trus anak bapak yang satunya kemana?” tanyaku. “bapak terpaksa memberikan kepada orang lain”. “Kenapa begitu?” tanyaku ulang. “pada waktu itu bapak tidak sanggup untuk membiayai mereka berdua, terpaksa bapak berikan kepada orang lain, kemudian bapak pergi keluar kota untuk mengadu nasib, dan akhirnya sekarang bapak bisa sukses sekarang ini. Sekarang bapak ingin sekali mencari anak bapak tersebut. Bapak ingin meminta maaf karena telah menyusahkan dia” jelasnya dengan panjang. “kenapa bapak sekarang tidak mencari anak bapak”? tanya ku. “itulah nak, bapak ingin sekali mencari anak bapak, tetapi tugas bapak di sini sangat banyak, belum lagi tugas yang berada di luar kota. Lagian bapak juga tidak tahu anak tersebut berada di mana, sebab bapak tidak tega harus menyerahkan langsung kepada ayah angkatnya, jadi dulu bapak titipkan ke salah satu suster yang berada di rumah sakit sewaktu anak bapak tersebut di lahirkan untuk di serahkan ke orang lain” jelasnya panjang. Aku meras kasihan dengan pak guruku. Dia sangat baik dan ramah kepada ku. Aku jadi ingin membantu mencari anak tersebut berada.
Sobat sekarang aku dekat sama kak Ikhsan semenjak kejadian yang di bus tersebut. Aku juga sering saling chatting dan sms an. Entah mengapa jadi begini. Aku merasa nyaman berada di dekatnya. Dia yang selalu menuntunku kearah yang benar, mengigatkan ku untuk rajin sholat, belajar. Serasa aku mempunyai kakak baru. Kami juga saling curhat untuk menyelesaikan masalah masing-masing. Dia sangat perhatian kepada ku. Apakah dia menyimpan perasaan yang sama atas apa yang aku rasakan saat ini kepada dia?
Malam hari seperti biasa, aku bercerita kepada kak Ikhsan tentaang apa yang ku alami sewaktu tadi di sekolah. Dan dia mau membantu ku mencari siapa anak pak guru ku yang hilang. Dia berkata” ok, nanti kakak bantu kamu untuk mencari dimana anak bapak tersebut berada, tapi ingat dulu kita mau ujian kenaikan kelas jadi kita belajar dengan sungguh-sungguh supaya dapat nilai yang memuaskan, setelah ulangan baru kita sama-sama mencari di mana anak itu berada, gimana setuju gak?”. “ok kak, aku setuju kok. Terima kasih kakak sudah mau membantu ku.” Jawabku.
Seminggu berlalu sudah. Dan aku sudah melaksanakan ujian kenaikan kelas dengan lancar tanpa hambatan apapun. Tinggal menentukan hasilnya. Sekarang tiba waktunya  class meeting. Class meeting inilah aku gunakan untuk mencari siapa anak dari pak guru ku tersebut. Oya sobat ada yang lupa nama guru ku itu bapak Muchtar. Dengan bantuan kak Ikhsan, pertama aku menelusuri rumah sakit dimana dulu di lahirkan anak pak Muchtar. Kami mencari data kelahiran 16 tahun yang lalu. Setelah berkas tersebut di temukan, di sana terdapat informasi tentang kelahiran anak pak Muchtar. Anak tersebut di lahirkan pada tanggal 25 januari 1996, pada pukul 04:30. Anak tersebut bernama Safi Ramadhani dan Safa Ramadhani. Anak tersebut bergolongan darah o.
Sobat aku merasa sedikit terkejut, karena semua tentang data kelahiran itu sama seperti ku. Aku bertanya kepada kak Ikhsan” kak semua data ini sama seperti ku ya”. “hmm...mungkin ini hanya kebetulan saja”. Setelah itu kami mencari suster rumah sakit yang dulu pernah di titipi anak oleh pak Muchtar. Setelah kami mendapatkan alamat tersebut, kami langsung menuju alamat tersebut. Tapi sayang suster tersebut telah pindah cukup lama. Dan sekarang kami tidak tau harus mencari kemana. Aku hampir putus asa setelah sekian lama dan lelah mencari rumah suster tersebut. Tapi semangat dari kak Ikhsan membuatku tetap bertahan untuk melanjutkan pencarian kami. Kami berhenti melakukan pencarian. Kami beristirahat di bawah pohon beringin yang besar, di dekat pohon tersebut banyak pedagang yang menjual berbagai makanan dan es.
Sobat taukah kamu? Semenjak pencarian ini, aku semakin dekat dengan kak Ikhsan. Aku merasa aman dan nyaman saat berada di dekatnya. Aku begitu lelah dalam pencarian ini. Tubuh ku sejak kemarin sering lemas dan daya tahan berkurang. Rasa sakit juga terasa di bagian ginjal. “Ya Allah ada apa dengan tubuh ku ini” pikirku dalam hati. Aku terlelap dalam tidur di pundak kak Ikhsan. Dia pun membiarkan ku, karena dia tau aku sedang sakit dan lelah. Aku pun terbangun dalam tidur, kemudian melanjutkan pencarian. Di sana kami bertemu dengan seorang penjual jamu keliling. Kami bertanya dengan seseorang tersebut. Seorang tersebut mengetahui dimana suster itu berada. Kami langsung menuju rumah yang di tunjukkan oleh seorang penjual jamu tersebut.
Sobat aku senang sekali akhirnya pencarian kita membuahkan hasil. Sesampainya di sana, kami bertemu dengan seseorang perempuan yang kira-kira berusia 45 tahun. Perempuan itu adalah suster yang di titipi anak oleh pak Muchtar. “assalamualaikum”, sapa kami. “waalaikumsalam wr.wb”, jawab ibu tersebut. “silahkan masuk, ada yang bisa di bantu”, tanya ibu itu dengan ramah.
Kemudian kami menjelaskan maksud dan tujuan kami datang kemari.”iya memang betul, 15 tahun yang lalu, pak muchtar menitipkan bayi kepada saya, kemudian anak tersebut di adobsi oleh seorang keluarga yang belum bisa mempunyai anak” jelas ibu itu. “ keluarga siapa yang mengadopsi anak tersebut bu” tanya kak Ikhsan kepada ibu tersebut. “ sebentar ibu akan mengambilkan berkas nya” kata ibu itu sambil mengambil map warna abu-abu.
Setelah berkas itu di ambil aku sangat terkejut melihatnya. Ternyata nama orang tua asuh itu adalah papa dan mama ku sendiri. Disana tertulis nama Safa Ramadhni. Aku tak kuasa menahan air mata ku. Tidak ku sadari air mata ku sudah membasahi pipiku. Ku rasakan tangan kak Ikhsan memegang pundak ku untuk menenangkan ku. Sobat tak kusangka jadi nya seperti ini, aku masih tak percaya dengan semua ini. Aku harus mencari bukti yang lebih kuat.
Setelah liburan ini, aku pulang ke rumah. Tidak ada sesuatu yang aneh terhadap ku. Aku bersikap biasa terhadap mama dan papaku. Aku langsung mencari bukti tersebut. Dan ku temukan di lemari baju mamaku. Seberkas map yang sama dengan kepunyaan suster tersebut. Kemudian aku perlahan-lahan mendekati mama dan papa ku yang sedang ngobrol. Mereka terkejut aku mengetetahuinya. Mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya takut bila nanti aku mengetahuinya aku akan pergi.”ma, pa, aku tidak akan pergi meninggalkan kalian, karena kalian yang telah merawatku. Tidak segampang itu bagi ku meninggalkan orang yang sangat ku cintai”,jelasku.
Akhirnya aku, mama dan papaku, pergi menemui ayah kandungku. Dan kak Ikhsan juga ikut mengantarkanku. Disana aku bertemu dengan orang tua kandung ku, yang tidak lain adalah guru ku sendiri. “benar apa yang selama ini bapak duga, ternyata memang kamu adalah anak bapak yang dulu bapak titipkan ke orang lain”. Kemudian bapak tersebut memanggil seseorang. Dia adalah saudara kembarku. Sobat aku seperti melihat bayangku di cermin, dia sangat mirip dengan ku. Kak Ikhsan pun sampai tidak berkedip melihatnya. Langsung saja aku cemburu dengannya. Bapak langsung mengenalkan ku dengannya.
“Nak sebenarnya nama mu Safa Ramadhani, dan ini kembaran mu Safi Ramadhani”.jelas bapak tersebut. Sobat aku jadi mempunyai dua nama. “nak maukah kamu tinggal bersama bapak dan saudara kembarmu di sini?”, pinta bapak tersebut. “maaf pak, saya tidak bisa memenuhi keinginan bapak, aku lebih memilih tinggal bersama papa dan mama, tapi aku akan sering menginap dan bermain di sini”, jawabku. “baiklah jika itu keinginan mu”, jawab bapak itu.
Setelah kejadian itu, kami bersikap sewajarnya, hanya saja kak Ikhsan lebih banyak perhatian dengan Safi dibanding aku. Aku merasa kalau kak Ikhsan menyukai Safi, tapi biarlah dia kan saudara kembarku. Kak andaikan kakak tau aku sekarang sangat mencintai kakak, tapi sepertinya cintaku ini bertepuk sebelah tangan.
Semakin lama aku semakin menjauh dari kak Ikhsan. Aku takut jika aku selalu berada di dekatnya aku semakin sakit hati. Tapi kak Ikhsan menyadarinya, dia tahu kalau aku menyayanginya. Dia bertanya kepada ku” kenapa sekarang berubah”?,”bukannya kakak yang berubah?” aku balik bertanya. “Aku sebenarnya tau cantika, kakak hanya mencoba kesetiaan mu saja lewat saudara kembarmu, kakak pun mempunyai rasa yang sama dengan apa yang kau rasakan selama ini, dari dulu kakak sudah mengetahui mu, kakak mencari seseorang seperti mu” jelasnya panjang
Sobat ternyata aku mempunyai pikiran yang salah terhadap kak Ikhsan. Dia ternyata mempunyai rasa yang sama dengan hati ku. Aku bahagia mendengarnya.
Sekarang aku mempunyai segalanya, mama dan papa yang sayang padaku, ayah yang cinta padaku, saudara kembar yang sehati dengan ku, dan kakak Ikhsan yang selalu berada di sampingku. Kebahagiaan ku begitu lengkap.

The End

 karya: Uswatun Indriyani Nur Siam


           

 
Uswatun I. Nur Siam © 2012 | Designed by Meingames and Bubble shooter